Friday, June 11, 2010

Wanita, di Dalam Pantulan.

11:40


... Lalu aku berdiri, dan menyerahkan diri untuk dibawa pergi oleh gerak-gerak bebas kereta penampung orang-orang yang punya tujuan.

Ah, tidak bisakah keretaku datang lebih lambat..

Sudah kuduga, ada yang menyesak di dalam. Di dalam. Bagian dalamku. Hati. Bagian hati. Entah apa itu hati atau jantung. Pokoknya terletak di dalam, di atas perutku. Di bawah dada. Tepat di situ. Di tengah-tengah perut dan dada. Di dalam. Ya, dalam sekali. Seperti ada sesuatu yang meluncur di dalam itu, ketika aku melangkah kedalam kereta. Sempat menengok sebentar ke arah kursi tadi aku duduk, kamu tetap tidak bergerak, di situ. Kamu membagi pandanganmu ke arah ku dan ke arah lain di sekitarku. Lalu aku duduk. Kamu tepat di belakangku, terbatasi oleh kaca kereta yang akan mengiringku ke tempat tujuannya, yang bukan tujuanku. Sebetulnya.

Pintu kereta cepat sekali tertutup, lalu gerak cepatnya membaku pergi. Kamu masih tidak bergerak. dan nyatamu tidak terlihat lagi oleh mataku. Spontanitas bayang-bayangmu bermunculan, aku sedih tak beraturan, pergi membawa rindu yang sering datang. Rasanya ingin berhenti. Pokoknya ingin berhenti.
henti terpanggil, ada sesuatu yang menyentak.

Mataku melihat seorang wanita yang duduk malas di bangku tengah kereta. Ia menahan isak, menahan mata yang berkilauan oleh air-air yang membuat matanya merah. Hidungnya pun menyusul memerah. Dual telunjuknya ia gunakan untuk menahan air-air yang dikeluarkan oleh kelenjar air mata yang pasti bersebab. Ya, aku yakin dia menahannya. Dan berhasil tertahan. Tapi tetap terlihat sedih, semakin ku pandang dia terlihat semakin sedih. Bahkan isaknya mulai terdengar jelas di kupingku. Penumpang lain dalam kereta hampir tidak ada yang peduli. Semua tidur. Hanya aku yang jelas melihat.

Wanita itu menunduk, aku tidak melihatnya lagi. Yang kulihat hanya bayangan-bayangan yang dari tadi menggerogoti tenangku. Serasa sepi dan hambar. Itu saja yang menemani perjalananku. Hah, lebih tepatnya perjalanan kereta yang membawaku pergi.

Lalu aku melihat wanita itu lagi, dia tidak menundukkan kepalanya. Jadi aku bisa melihatnya lagi. Tatapannya masih menyembunyikan isak, sesekali matanya berkeliaran meratakan air-air yang tidak diperbolehkan mengalir. Hal-hal seperti ini hampir selalu disebabkan oleh kenangan dan bayangan-bayangan yang menjelma menjadi pusat perputaran di pikiran.

Kereta telah membawaku berkilo-kilo meter, memisahkan tubuhku dengan tubuhnya. Juga dengan waktu.
Aku lihat lagi, wanita itu masih melayangkan pikirannya dengan mencoba menahan isak. Aku hanya datar, lalu mau tak mau menatapi wanita sedih itu lagi. Terus. Lalu, lagi.

Dan.. Kereta berhenti, di Bogor. Aku masih duduk, terpaku melihat wanita itu yang sudah tidak ada. Wanita yang terpantul oleh cermin. Wanita yang telah menceritakan dirinya lewat pantulan cermin, aku.
Oh, ternyata cermin itu sudah hilang dibawa oleh pemiliknya. Lalu aku tidak melihat lagi pantulanku yang sayu.

Aku berdiri, melangkah menatap nyata. Membuka kompasku agar tidak tersesat. Ku tegakkan wajah, ku kantongi rindu, dan berjalan menemui tenang.

"selamat hari jumat, 216" dalam hati aku berbisik, mungkin dalam jantung.
Entahlah pokoknya letaknya di tengah-tengah antara dada dan perut. Di dalam. Ya, tepat di situ aku berbisik.


© Mega Hadiyanti Khairunnisa 2010